Tiga Bintang di Pundak, Air Mata di Depan Makam Orang Tua: Momen Haru Kapolda Sulut Pulang ke Pakuweru
- Penulis : Redaksi
- | Selasa, 01 Sep 2026 11:05 WIB
Detik77news.id | MINAHASA SELATAN – Di balik ketegasan seorang perwira tinggi Polri dengan tiga bintang di pundaknya, tersimpan sisi seorang anak yang tak pernah hilang.
Momen penuh haru itu terlihat saat Kapolda Sulawesi Utara (Sulut) Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H., kembali ke tanah kelahirannya di Desa Pakuweru, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Senin (31/8/2026).
Kepulangan tersebut bukan untuk menghadiri seremoni besar maupun menjalankan agenda kedinasan. Sang jenderal datang untuk mengenang dua sosok yang memiliki tempat paling penting dalam perjalanan hidupnya, yakni ayah dan ibunya.
Di hadapan pusara kedua orang tuanya, Kapolda Sulut tampak menundukkan kepala. Perlahan ia mendekati makam, memberikan penghormatan, kemudian mencium nisan.
Suasana pun berubah menjadi haru.
Air mata terlihat jatuh dari mata sang jenderal. Ketegaran yang selama ini menjadi bagian dari sosok seorang pemimpin Polri seakan luluh ketika berada di hadapan pusara orang tua.
Di tempat itu, pangkat, jabatan, maupun tiga bintang di pundaknya seolah tak lagi menjadi hal utama. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang datang untuk mengenang kasih sayang, perjuangan, pengorbanan, serta doa kedua orang tua yang telah mengiringi setiap langkah kehidupannya.
Perjalanan seorang anak menuju keberhasilan tentu tidak lepas dari perjuangan orang tua. Ada doa yang tak selalu terdengar, pengorbanan yang tak selalu terlihat, serta kasih sayang yang sering kali baru terasa begitu dalam ketika seorang anak telah jauh dari rumah dan berhasil mencapai cita-citanya.
Di hadapan makam ayah dan ibu, seluruh pencapaian seakan kembali pada satu titik sederhana: orang tua adalah sosok pertama yang percaya, mendukung, dan mendoakan seorang anak agar kelak menjadi manusia yang berguna.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun seseorang mendaki tangga kehidupan, akan selalu ada tempat untuk kembali menjadi dirinya sendiri.
Seorang anak.
Tiga bintang boleh menghiasi pundaknya. Jabatan boleh membawanya memimpin ribuan anggota. Namun di hadapan pusara orang tua, ketegaran seorang jenderal pun dapat luluh oleh kenangan dan rasa cinta yang tak pernah berakhir.
Dari Pakuweru, sebuah pesan sederhana seolah kembali mengemuka: setinggi apa pun jabatan dan pencapaian seseorang, jangan pernah melupakan mereka yang pertama kali mendoakan setiap langkahnya.
Sebab, meski orang tua telah berpulang, doa, kasih sayang, nilai-nilai kehidupan, dan teladan yang mereka tinggalkan akan terus hidup dalam setiap langkah anak-anaknya.(Arie)
Editor : Redaksi